Salah satu perayaan umat hindu di Bali yang dijadikan sebagai hari libur nasional adalah hari raya nyepi. Dirayakan setiap satu tahun sekali. Ini merupakan pergatian tahun caka sehingga banyak yang memaknai hari raya nyepi adalah tahun barunya Bali.  Lain halnya dengan perayaan tahun baru nasional, seperti namanya ‘nyepi’ yang berasal dari kata sepi, Bali seolah menjadi pulau yang mati dalam sehari, tidak ada aktivitas apapun, tidak ada gemerlap lampu di malam hari semuanya gelap, masyarakat hanya berada di dalam rumah, airport juga ditutup, kecuali rumah sakit yang masih bisa beroperasi tentunya untuk keadaan darurat.

hari raya nyepi
Suasana Hari Raya Nyepi di Bali

Makna dan tujuan hari raya nyepi di Bali

Makna hari raya nyepi adalah untuk menyucikan buana agung (alam semesta) dan juga Buana alit (alam manusia). Selama 24 jam kita diberi waktu untuk instropeksi diri, memikirkan apa yang sudah kita perbuat dalam waktu yang sudah terlewati dan kedepannya agar kita bisa berperilaku lebih baik serta berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernak kita lakukan. Meditasi sangat disarankan saat hari raya nyepi di Bali, karena kegiatan apapun tidak boleh kita lakukan.

4 larangan saat hari raya nyepi di Bali yang disebut dengan catur brata penyepian yaitu:

  • Amati Geni : Tidak boleh menyalakan api atau lampu.
  • Amati karya: tidak boleh bekerja atau melakukan kegiatan apapun
  • Amati lelungan: Tidak boleh bepergian
  • Amati Lelanguan: tidak boleh bersenang-senang.

Atas dasar itu bisa kita simpulkan bahwa dalam 1 hari (24 jam) kita tentunya tidak akan bisa melakukan aktivitas apapun. Malam hari akan sangat gelap karena semua lampu dilarang untuk dinyalakan. Dan kita juga diarahkan untuk berpuasa. Dari situ bisa kita fikirkan tujuan hari raya nyepi di Bali juga pengendalian diri sekaligus instropeksi diri agar kedepan kita bisa berbuat lebih baik.

Rangkaian pelaksanaan hari raya nyepi di Bali

Pada umumnya disetiap kegiatan keagamaan masyarakat hindu Bali akan ada rangkaian acara sebelum menuju acara utama/puncaknya. Demikian juga halnya saat nyepi. Adapun rentetan proses ritual/acaranya yaitu:

Melasti
Melasti yang bisa juga disebut dengan melis/mekiyis adalah ritual upacara yang dilakukan di laut/pantai. Biasanya 3-4 hari sebelum nyepi, setiap desa di Bali akan mengajak masyarakatnya menuju pantai dengan mengarak simbol-simbol atau sarana keagamaan yang ada di setiap pura, untuk dilakukan peryucian/pembersihan, karena dalam kenyataannya air merupakan alat pembersihan yang nyata untuk segala kotor (leteh) pada manusia dan juga alam semesta. Disinilah masyarakat akan sembahyang bersama, untuk memohon penyucian kepada Dewa Baruna/dewa penguasa laut.

hari raya nyepi
Upacara melasti rangkaian hari raya nyepi

Pengerupukan.
Satu hari sebelum acara Nyepi disebut dengan pengerupukan. Masyarakat akan mengadakan upacara Butha Yadnya (mecaru), dengan melakukan persembahan sesajen (caru) di masing-masing rumah dan juga di persimpangan jalan desa. Maknanya adalah persembahan kepada roh jahat/butha kala dengan tujuan agar mereka tidak menggagu kita dalam kehidupan. Kegiatan pengerupukan biasanya dilanjutkan dengantraidsi menyebarkan nasi disekeliling rumah, mengobor-oborkan api, menebar mesui-jangu (rempah-rempah), memukul kentongan atau benda yang bisa menimbulkan suara bising.  yang tujuannya mengusir butha kala yang ada disekitar rumah kita.
Pada sore hari menjelang malam masyarakat akan berkeliling desa dengan mengarak Ogoh-ogoh (patung perwujudan butha kala) diiringi dengan musik bleganjur yang meriah. Disinilah biasanya juga akan dimanfaatkan untuk lomba kreasi seni. Ogoh-ogoh dari masing-masing desa, yang dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum hari raya nyepi,  akan dilombakan tingkat seni dan kreatifitasnya. Dan biaya membuatnya juga tidak sedikit.

Puncak hari raya nyepi
Dimulai dari pukul 06.00 pagi, masyarakat sudah harus stop semua kegiatan rutin yang biasa dilakukan. Mereka hanya akan berdiam diri dirumah, tidak boleh bepergian kemana-mana dan juga beraktivitas apapun, bersuara keras juga dilarang. Untuk menjaga ketertiban biasanya petugas keamanan desa atau yang disebut Pecalang, melakukan patroli keliling desa dengan berjalan kaki, untuk mengawasi masyarakat agar tidak melanggar aturan hari raya nyepi. Hanya keadaan darurat seperti orang sakit, yang biasanya mendapat ijin jika harus segera di bawa ke rumah sakit. Tidak akan tampak kendaraan bermotor dijalan seperti hari biasannya. Bali benar-benar ‘mati’ dalam sehari, seolah tidak ada penghuninya. Malam hari juga terasa sangat sepi dan gelap, karena dilarang menyalakan lampu. Bagi wisatawan yang sedang berada di Bali, tentunya juga tidak akan diijinkan keluar hotel apalagi jalan-jalan, mereka hanya akan menghabiskan waktu di dalam hotel.

Ngembak Geni
Besoknya pukul 06.00 acara nyepi sudah berakhir, dilanjutkan dengan acara Ngembak Geni, masyarakat akan melakukan persembahan di pura keluarga masing masing,  disini juga biasanya melakukan kegiatan silaturahmi bersama keluarga maupun tetangga. Dimana kita sudah melewati tahun yang lalu dan memulai lembaran baru untuk dapat melakukan hal yang lebih baik dari sebelumnya.
Pada pagi hari saat ngembak geni kita akan dapat benar-benar merasakan udara yang sangat segar, bersih dari polusi karena selama 24 jam penuh tidak ada kendaraan bermotor dijalanan.

Dampak positif dari perayaan hari raya Nyepi di Bali

Secara umum bisa kita rasakan, polusi merupakan salah satu penyebab buruknya kesehatan tubuh manusia, sehingga hal utama yang bisa kita nikmati adalah bersihanya udara dari polusi walaupun hanya dilakukan selama 24 jam. Kita juga bisa bayangkan secara umum saat ini PLN mengalami kerugian karena banyaknya daya yang harus disubsidi untuk masyarakat. Dan dalam 24 jam PLN bisa menghemat ribuan watt energinya yang berasal dari dampak kegiatan hari raya nyepi. Mungkin masih banyak dampak positif lainnya yang bisa kita nimkati secara langsung maupun tidak langsung.